Wisuda
Hari kebijaksanaan itu akhirnya datang juga, hari yang dulu sering dibayangkan tapi terasa mustahil untuk dicapai. Pagi itu, aku berdiri di depan cermin, mengenakan toga hitam yang terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena kainnya, tapi karena semua kenangan dan perjuangan yang ikut menempel di dalamnya. Perjalanan menuju wisuda penuh lika-liku. Ada hari-hari ketika aku merasa begitu bersemangat, yakin bisa menaklukkan semua tantangan. Tapi ada juga hari-hari berat, saat tugas menumpuk, nilai tidak sesuai harapan, dan rasa lelah membuatku ingin berhenti. Pernahkah saya bertanya pada diri sendiri, apakah semua usaha ini akan dibayar. Namun setiap kali ingin menyerah, selalu ada alasan untuk bertahan—entah itu mimpi, dukungan keluarga, atau sekadar harapan kecil bahwa esok akan lebih baik. Saat namaku dipanggil dan aku melangkah ke atas panggung, dadaku terasa sesak. Tepuk tangan yang terdengar bukan hanya untuk hari itu, tapi untuk semua proses panjang yang sudah kulewati. Aku...